Jumat, 21 November 2008

Antara Mujahid vs Teroris

Khotbah Jumat kemaren tanggal 21 November 2008 di Atriun Gedung BBD plaza, mungkin bagi sebagian orang merupakan Khutbah biasa. yaitu suatu rukun dari pelaksanaan sholat jumat. materi yang disampaikan tentu saja berkaitan dengan Akidah, ibadah atau hal-hal lain yang berkaitan dengan Dinnul Islam. Tetapi bagi saya pribadi, khotbah yang disampaikan oleh Usztad ini sungguh luar biasa.
Beliau membahas tentang tiga Syuhada yang baru saja dihukum mati, yaitu Amrozi, Ali Ghufron dan Imam Samudra. beliau mengemukakan fakta-fakta dibalik terjadinya bom bali. kejadian yang terjadi pada saat proses penyidikan dan persidangan ketiganya. dalam khutbah jumat tersebut, sang Ustazd juga menyampaikan tentang pembicaraan yang dilakukan oleh beliau dengan ketiga tokoh ini. Apa saja peran mereka dalam kejadian tersebut dan mengapa mereka melakukan hal itu.
Imam Samudra dikatakan hanya sebagai pemantau kondisi lokasi sebelum peledakkan dilakukan, dan 2 orang yang lain juga dinyatakan tidak terlibat secara langsung dengan proses pengeboman. malahan pelaksana pengemboman hanya dihukum seumur hidup, lebih rendah dibandingkan ketiganya.
Selain itu juga disampaikan bahwa, fakta dilapangan, ditempat kejadian menggambarkan ketidakmungkinan terjadinya ledakan yang begitu dasyat, hanya karena bahan bom yang dirakit oleh pelaku pengomboman. juga disampaikan bahwa ada dugaan yang menyatakan adanya bom nuklir kelas mini yang ikut diledakan. dimana kemungkinan besar bom tersebut berasal dari luar negeri.
Usztad ini juga menyampaikan bahwa banyaknya fakta-fakta lain yang memperlihatkan kejanggalan dari proses penyidikan dan persidangan ketiga tokoh tersebut.
Kejadian bom bali juga dicurigai sama halnya dengan kejadian kejadian di Word Trade Center (WTC) di amerika. yaitu dimana ada keterangan para ahli yang menyatakan bahwa tidak mungkin gedung WTC yang sudah dirancang sedemikian rupa, tahan gempa bisa ambruk...rata dengan tanah hanya karena ditabrak oleh pesawat yang katanya ada anggota Al Qaida didalamnya. dicurigai, rencana penabrakan pesawat itu ditunggangi oleh agen rahasia negara tertentu, untuk mendiskriditkan AL Qaeda dan kaum Muslim. Gedung WTC bisa runtuh karena di setiap lantai atau dilantai tertentu sudah dipasang bom-bom yang berfungsi meruntuhkan kuda-kuda atau tiang pondasi gedung tersebut. kalau anda pernah melihat film dokumenter penghancuran gedung bertingkat, kita dapat mengerti maksud argumen tersebut. dimana untuk meruntuhkan gedung bertingkat yang sudah lapuk saja, diperlukan pemasangan dinamit yang cukup banyak dan dibanyak lantai.
Bukan fakta-fakta yang dikemukakan itu yang menarik hati ini, tetapi teriakkan lantang sang ustadz yang menyatakan bahwa setiap ucapan dan tindak tanduk kita sebagai muslim diperhitungkan oleh ALLAH. itu hal biasa yang sudah biasa kita dengar. tetapi ada lanjutannya. bahwa dahlil itu dikaitkan dengan penyebutan istilah Syuhada atau teroris bagi ketiga orang itu, Amrozi, Ali ghufron dan Imam Samudra.
Jika kita sebagai muslim ikut serta menyebutkan teroris bagi ketiganya, maka ALLAH akan memperhitungkan itu. karena adalah kewajiban kita sebagai muslim untuk saling mendoakan sesama muslim.
Disisi lain, kita juga pernah mendengar bahwa salah satu menteri didalam kabinet sekarang menyatakan dan menghimbau kepada seluruh rakyat indonesia untuk tidak menyebut panggilan Syuhada bagi ketiganya.
Sang Ustadz juga menyampaikan bahwa seluruh orang yang terkait dengan dijatuhinya hukuman bagi 3 orang Bomber bali ini, akan menanggung beban dosa yang akan diperhitungkan, kalau memang tidak dibalaskan didunia, Insya ALLAH akan dibalaskan di hari akhir.
Saya merasakan bahwa hal yang disampaikan oleh sang Ustazd, patut kita renungkan. terutama bagi para pelaksana hukum, baik kepolisian, kejaksaan dan kehakiman. selain itu para pembuat undang-undang (pemerintah dan DPR) juga perlu mempertimbangkan sisi keyakinan dan hukum-hukum dalam agama yang kita anut dalam menetapkan undang-undang. jangan hanya karena masalah kepentingan, maka semua hal diatur sesuai dengan kepentingan tersebut.
Hukum harus ditegakkan, bukan karena hanya untuk mengatur kehidupan dunia ini menjadi lebih baik. tetapi seluruh keputusan hukum yang terjadi didunia ini, akan diadili kembali di hari akhir. bukan hanya Akidah dan Ibadah saja yang diperhitungkan, tetapi keputusan atau tidak tanduk yang dilakukan didunia ini tentu saja akan dihitung.
Para Hakim, dan Jaksa setiap hari berkecimpung dalam pengambilan keputusan atas hukum. selama hidup dan karirnya, berapa banyak seorang hakim memutuskan perkara. oleh karena itu aparat penegak hukum harus benar-benar melakukan tugasnya, dengan sepenuh hati, bukan hanya menjalankan seperti robot yang sudah diprogram atau memutuskan hukuman karena adanya kepentingan, baik kepentingan politik maupun ekonomi (suap).
kalau mereka tidak bekerja dengan baik, Tunggu saja Nanti di peradilan ALLAH.

0 komentar: